Tarumanagara, Kerajaan Tertua di Pulau Jawa

Awal mula kerajaan pembentuk peradaban di pulau Jawa

Peta persebaran prasasti Tarumanagara. Peta/historitual.com

Pada abad ke-5 Masehi di wilayah Bogor, Jawa Barat telah berkembang pusat Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya yang bernama Purnawarman. Kerajaan ini disebut sebagai kerajaan tertua di pulau Jawa. Hal ini dibuktikan berdasarkan sumber sejarah dan bukti arkeologi yang berkaitan dengan Kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan data yang ada diduga keberadaan kerajaan Tarumanagara diperkirakan berlangsung dari abad ke-5 hingga abad ke-7 Masehi.

Historiografi Tarumanagara

Bukti primer dan otentik mengenai keberadaan suatu kerajaan kuno adalah adanya prasasti yang dikeluarkan oleh raja atau penguasanya. Berkaitan dengan Kerajaan Tarumanagara, diketahui terdapat tujuh batu prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut, yaitu Prasasti Ciaruteun, Kebon Kopi I, Pasir Koleangkak, Muara Cianten, Pasir Awi yang ditemukan di daerah Bogor; serta satu prasasti Tugu ditemukan di Jakarta Utara dan satu prasasti Cidanghiang di Pandeglang. 

Berdasarkan persebaran prasasti yang berkaitan dengan Kerajaan Tarumanagara, dapat diperkirakan bahwa pengaruh atau wilayah Kerajaan Tarumanagara pada masanya, setidaknya mencakup sebagian barat pulau Jawa mulai dari Pandeglang dan Tangerang di bagian barat, Bogor di bagian selatan, dan Jakarta di bagian utara, serta Bekasi dan Karawang di bagian timur. 

Letak pusat kerajaan atau istana Tarumanagara hingga kini masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan, beberapa ahli menafsirkan bahwa pusat kerajaan berada di Bogor. Hal ini didasari dari temuan prasasti-prasasti masa Kerajaan Tarumanagara, bahwa lima dari tujuh prasasti tersebut berada di kawasan hulu sungai Cisadane yang termasuk bagian wilayah Kabupaten Bogor.

Tiga dari lima prasasti mengenai Kerajaan Tarumanagara, ketiganya menunjukkan adanya penguasa Tarumanagara bernama Raja Purnawarman yang berkuasa atas kerajaan tersebut. Dalam prasasti-prasastinya tersebut Purnawarman digambarkan sebagai seorang pemimpin yang gagah berani, penuh kejayaan dan masyhur.

Tarumanagara Dalam Sumber Sejarah

Kerajaan Tarumanagara disebutkan dalam berbagai sumber sejarah baik itu prasasti, berita asing maupun naskah. Berikut ini sumber sejarah yang menunjukkan eksistensi Kerajaan Tarumanagara, di antaranya adalah:

Prasasti

Tujuh prasasti dipastikan terkait dengan Kerajaan Tarumanegara adalah prasasti: Ciaruteun, Kebon Kopi I, Pasir Koleangkak, Muara Cianten, Pasir Awi (ditemukan di Bogor), Tugu (Jakarta Utara) dan Cihandiang (Pandeglang, Banten).

Berita asing

Berita asing yang menyebutkan adanya Kerajaan Tarumanagara berasal dari berita Tiongkok. Dalam buku laporan berjudul "Fu Guo Ji" atau "Lawatan ke Negeri Buddha" yang ditulis oleh Fa Hsien (Fa Xian) seorang biarawan Buddha dari Tiongkok pada abad ke-5 Masehi, diceritakan bahwa ia pernah berkunjung ke Ye-po-ti, sebuah negeri di mana jumlah penganut Buddha lebih sedikit daripada penganut Brahmana dan Animisme. Ye-po-ti diduga adalah bentuk pelafalan Tiongkok untuk Yavadvipa atau pulau Jawa. Sedangkan kerajaan yang ada pada abad ke-5 di Jawa saat itu adalah Tarumanagara.

Pada abad ke-7 Masehi catatan I-tsing menyebutkan adanya toponim Moho-sin. Pada zaman yang sama ada pula berita yang menyebutkan toponim To-lo-mo. Menurut penafsiran beberapa ahli nama To-lo-mo merupakan pelafalan dari Tiongkok untuk Taruma. Sama halnya dengan nama Ho-ling yang ditafsirkan sebagai Keling atau Kalingga. Berdasarkan data yang ada diduga keberadaan kerajaan Tarumanagara berlangsung dari abad ke-5 hingga abad ke-7 Masehi.

Naskah

Kerajaan Tarumanagara juga diriwayatkan dalam sekumpulan naskah yang disusun oleh sebuah panitia pimpinan Pangeran Wangsakerta dari Cirebon. Sekumpulan naskah tersebut tersusun menjadi Naskah Wangsakerta. Namun, naskah-naskah ini telah menjadi polemik di kalangan sejarawan dan arkeolog, sebab isinya yang tidak umum sebagaimana naskah-naskah karya sarjana barat pada abad ke-17. Sehingga menimbulkan dugaan bahwa Naskah Wangsakerta disusun dengan meniru karya sarjana barat. Hal tersebut menunjukkan bahwa Naskah Wangsakerta diragukan keasliannya sehingga sulit untuk dijadikan patokan sejarah.

Tarumanagara Sebagai Kerajaan Tertua di Jawa

Berbagai bukti sejarah menyebut keberadaan Kerajaan Tarumanegara dan perannya sebagai kerajaan Hindu tertua di pulau Jawa.  Namun, sumber sejarah primer justru tidak banyak menyebut kepemimpinan para rajanya. Berdasarkan temuan prasasti diketahui Kerajaan Tarumanagara pernah dipimpin oleh seorang raja bernama Purnawarman yang berhasil membawa Kerajaan Tarumanagara mencapai kejayaan. Di samping itu terdapat pula argumen yang menyatakan bahwa kerajaan tertua di pulau Jawa adalah Kerajaan Salakanagara. 

Kerajaan Salakanagara diyakini berdiri lebih awal dibandingkan Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan ini disebut-sebut sebagai cikal bakal kerajaan-kerajaan di Jawa Barat. Namun, sumber sejarah ataupun peninggalan arkeologi seperti prasasti yang berkaitan dengan kerajaan tersebut tidak pernah ditemukan. 

Sumber sejarah utama Kerajaan Salakanagara adalah "Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara" yang merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta. Sedangkan, penelitian mengenai Naskah Wangsakerta di kalangan para ahli sejarah dan arkeologi telah menuai polemik. 

Para ahli sejarah menyatakan bahwa isi naskah-naskah tersebut banyak kejanggalan, bahkan kontradiktif. Atas dasar itu, Kerajaan Tarumanegara lebih dipercaya sebagai kerajaan Hindu pertama di pulau Jawa, karena memiliki bukti peninggalan tertulis berupa tujuh prasasti.

Runtuhnya Kerajaan Tarumanagara

Belum ada bukti sejarah secara pasti kapan Kerajaan Tarumanagara runtuh. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa Tarumanagara runtuh akibat serangan Sriwijaya. Hal ini didasari dari prasasti Kota Kapur pada abad ke-7 di mana prasasti tersebut menjelaskan rencana penyerangan Sriwijaya ke Bhūmi Jawa akibat menolak tunduk kepada Sriwijaya. Peristiwa ini cukup bersamaan waktunya dengan keberadaan Kerajaan Tarumanagara di barat pulau Jawa. 

P.V. van Stein Callenfels mengemukakan bahwa "Bhūmi Jawa" bukanlah kata benda atau nama diri; ini menunjukkan nama tempat. Keterangan Prasasti Kota Kapur menunjukkan bahwa Bhūmi Jawa memiliki kerajaan yang gigih di abad ke-7, sehingga mereka menolak tunduk kepada Sriwijaya. Dalam prasasti Palas Pasemah, Sriwijaya juga memberikan sumpah kutukan kepada mereka yang menolak tunduk.

Dugaan lain bahwa Candi Batujaya di Karawang sebagai candi Buddha merupakan pengaruh dari Sriwijaya, dibuktikan pada ditemukannya kepala arca, bahan dekoratif dan simbol Buddha (votive tablet), yang sesuai dengan ciri-ciri candi Buddha peninggalan Sriwijaya.

Tags:
Kuno
Parallax Ad
Link copied to clipboard.